Kamis, 15 September 2022

Cintaku di Stasiun Kereta Api

Kecintaan saya pada kereta api dimulai ketika saya masuk SMP,  pada saat itu sekolah saya berada dekat dengan stasiun kereta api Malang Kotalama yaitu SMPN 9 Malang. Jarak antara sekolah saya dengan stasiun hanya berkisar 1,5 km. Meskipun tidak pernah masuk stasiun, pada saat pulang sekolah saya sering sekali menunggu kereta tanki lewat. 
PT. KAI di malang terutama di stasiun Malang Kotalama memang bekerjasama dengan Pertamina untuk mendistribusikan BBM melalui kereta api. BBM dari Surabaya diangkut dengan kereta tanki ke Malang, setelah sampai di stasiun Malang Kotalama, BBM yang berada di tanki tersebut dibawa ke depo Pertamina di jalan halmahera, selanjutnya dari depo Pertamina di distribusikan ke seluruh wilayah malang. 

Setelah lulus SMP, ternyata Allah masih mendekatkan saya pada kereta api, saya masuk SMA yang tempatnya masih di sekitar stasiun Malang Kotalama, tepatnya di SMA 2 Malang. Setiap kali pulang sekolah, saya selalu bersiap-siap melihat kereta lewat. Bahagia sekali rasanya saat bel kereta mulai dibunyikan dan tidak berapa lama kemudian kereta api lewat. Begitu juga pada saat melihat petugas kereta api yang sedang bekerja, di mata saya mereka keren sekali. Ada masinis yang menjalankan lokomotif, ada petugas pengatur perjalanan kereta api, biasanya mereka berada di stasiun dan memakai topi merah. Ada juga petugas pengatur jalannya perlintasan (PJL), biasanya mereka ada yang di pos atau di jalan raya, tugas mereka adalah mengamankan perjalanan kereta api, salah satunya dengan menutup palang perlintasan pada saat kereta api lewat. Ada juga yang namanya juru langsir, tugas mereka adalah menyambung gerbong dengan lokomotif dan memastikan rangkaian gerbong telah terpasang dengan sempurna dan masih banyak lagi petugas kereta api yang lain. 

Setelah lulus dari SMA saya melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang (UM), sehingga saya tidak pernah lagi melihat kereta api karena letak UM mengarah ke barat dan dekat dengan rumah saya, selain itu saya belum bisa naik motor sehingga kalau ke arah stasiun harus menggunakan angkutan kota. 

Pada saat kuliah, saya masih menyempatkan diri sesekali ke stasiun terutama kalau ada saudara dari luar kota yang datang tetapi saya tetap tidak melewatkan tiap kali ada kereta yang lewat. Berteriak-teriak dan terkagum-kagum melihat kereta yang lewat merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya.  
Setelah lulus kuliah, alhamdulillah saya diterima bekerja di SMA 2 lagi. Ada kebahagiaan tersendiri saat diterima bekerja di SMA 2, karena berarti saya mengabdikan diri pada almamater saya dan hal itu berarti bahwa saya kembali dekat dengan stasiun Malang Kotalama πŸ˜‚πŸ€­. Karena jarak rumah dan SMA 2 lumayan jauh, akhirnya saya mulai belajar mengendarai sepeda motor. Selain untuk memudahkan berangkat bekerja, saya bisa lebih leluasa kemana saja, bahkan saat keinginan melihat kereta api muncul. 

Biasanya pada saat kegiatan di sekolah tidak begitu padat, saya sempatkan berangkat agak siang dan menunggu kereta tanki lewat. Biasanya, saya menunggu kereta lewat di bawah pohon dekat lampu merah. Setelah motor saya parkir, saya mencari tempat duduk dan siap melihat kereta tanki yang akan lewat. Saya perhatikan petugas pengaman perjalanan kereta api sudah mulai turun ke jalan dan menyetop pengguna jalan, tak berapa lama kereta tanki lewat, saya melihat dengan takjub, padahal sudah terbiasa melihat kereta api tetapi tetap saja saat kereta api lewat, selalu tidak bisa mengendalikan diri saya untuk berteriak dengan penuh ketakjuban πŸ˜‚πŸ™ˆ. Saya tidak menyadari bahwa ada salah satu petugas PJL yang memperhatikan saya dan tersenyum. 

Saya beranjak mengambil motor, tiba-tiba
"Sini mbak, saya bantu" kata petugas PJL itu mengambil motor yang saya parkir. 
"Oh ... iya terima kasih" balasku
Setelah motor siap ku kendarai, kembali saya mengucapkan terima kasih dan sejak saat itu petugas PJL yang bernama mas Aris itu selalu membantu saya setiap kali saya selesai melihat kereta api. 
Kebiasaan membantu saya itu akhirnya menjadikan saya dan mas Aris semakin dekat dan tak jarang mas Aris sering mengajak saya masuk stasiun Malang Kotalama sekedar untuk melihat kereta api dari jarak dekat. Mas Aris cerita bahwa sebenarnya sudah lama dia memperhatikan saya yang selalu siap menunggu kereta datang. Biasanya Mas Aris selalu ikut naik dan mengawal kereta ke depo Pertamina, sejak dia melihat saya yang asyik menunggu kereta lewat, akhirnya dia minta ijin pada atasannya untuk beralih tugas sebagai PJL di jalan raya. Tentu saja dia tidak menyampaikan alibinya itu pada atasannyaπŸ˜‚πŸ€­. Satu tahun setelahnya, kami menikah. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa hobi saya melihat kereta api ternyata membuat saya lebih dekat lagi dengan kereta api dan yang membuat saya takjub adalah ternyata Allah mengizinkan saya berjodoh dengan petugas kereta api πŸ˜ŠπŸ˜‚





Senin, 12 September 2022

Semangatmu adalah Ikhtiarmu

Kesukaan saya pada bidang tulis menulis sebenarnya sudah dimulai sejak SMA, pada saat itu saya lebih suka menulis cerpen. Saya siapkan buku khusus untuk menulis cerpen tapi tulisan itu saya nikmati sendiri karena memang saya tidak percaya diri untuk mengirimkan tulisan saya. Setelah lulus SMA dan karena kesibukan kuliah, hobi menulis saya tinggalkan hingga akhirnya pada tahun 1999 saya diajak kakak sepupu saya yang terlebih dahulu masuk grup Pegiat Literasi Nusantara untuk mengikuti tantangan membuat buku antologi dengan tema Go To 2020 yang intinya harapan dan rencana yang akan di susun di tahun 2020. 
Antara ya dan tidak, maju mundur, galau menyelimuti saya. Saya ingin menulis tapi takut salah, takut tulisan saya tidak bisa dipahami orang lain dan berbagai macam kekhawatiran yang lain, tetapi keinginan saya untuk bisa menulis mengalahkan keraguan saya. Akhirnya saya MENCOBA ikut menulis antologi dengan tema Go To 2020 saat itu yang menjadi kurator adalah kakak sepupu saya mbak Dian Riasari. Dari situlah saya mengenal Bunda Kanjeng dan menjadi dekat dengan beliau. Setelah itu saya saya ikut tantangan menulis antologi yang ke 2 yaitu Bunga Rampai Pendidikan Karakter, disana saya membahas mengenai Tata Krama dalam Budaya Jawa disusul dengan antologi ke 3 dengan judul Pesona Kearifan Lokal Nusantara, saat itu saya membahas mengenai Tahlilan dalam Budaya Jawa. 

Setelah ikut menulis 3 buku antologi, semangat menulis saya semakin besar, grup pegiat literasi saya ikuti. Diantara sekian banyak tantangan, saya selalu memilih tema yang saya kuasai. Saya tidak perduli tulisan saya itu benar atau salah, bisa dipahami atau tidak, dengan percaya diri saya kirim naskah-naskah saya pada kurator. Biasanya sebelum buku diterbitkan, akan ada editor yang akan meneliti tulisan saya. Memang setiap antologi yang saya ikuti ada biaya tapi menurut saya itu sepadan dengan apa yang kita hasilkan. Selain mendapat buku yang ditulis bersama, setiap peserta antologi juga mendapatkan sertifikat sebagai peserta. 

Pada saat itu, organisasi Musyawarah Guru BK mengadakan pertemuan dan materi yang disampaikan adalah mengenai menulis. Teman-teman MGBKmeminta saya untuk mencarikan pemateri, karena waktu itu masih pandemi sehingga kegiatan dilaksanakan secara virtual. Dengan bangga, saya menghadirkan Bunda Kanjeng sebagai pemateri dan setelah itu teman-teman guru BK diminta untuk membuat antologi dengan tema  Catatan Guru BK dalam Literasi dan Mengabdi dengan saya sebagai Kuratornya. Antologi tersebut menceritakan pengalaman pertama menjadi guru BK dan sepak terjang seorang guru BK dalam menangani permasalahan siswa. Hal yang membuat saya agak kecewa karena ternyata yang mengikuti antologi tersebut hanya 6 orang. Akhirnya supaya bukunya tidak terlalu tipis, bunda Kanjeng meminta saya menulis 2 cerita. Pada saat saya sampaikan pada teman-teman, saya tidak mengira bahwa ternyata ada 2 orang teman saya yang bersedia menuliskan 2 cerita juga. Sehingga total tulisan di buku menjadi 9 dan alhamdulillah buku antologi Catatan Guru BK dalam Literasi dan Mengabdi berhasil terbit. Hingga sekarang jumlah buku antologi saya sudah sekitar 19 buku dan memang ada kebanggan tersendiri yang saya rasakan dengan mengikuti tantangan menulis antologi tersebut. 

Perjuangan saya untuk bisa menjadi seorang penulis tidak lepas dari dukungan bunda Kanjeng, kakak sepupu saya mbak Dian Riasari, almarhum ibu saya, suami dan anak-anak saya. Alhamdulillah sampai saat ini Allah juga masih mengijinkan saya untuk menulis di blog, karena saya mempunyai impian untuk bisa menerbitkan buku solo. 
Suatu hari, saya diajak mbak Dian untuk bertemu bunda Kanjeng di daerah Sengkaling. Bunda Kanjeng hadir di malang karena ada kegiatan Pelatihan dan Pelantikan Trainer Puisi Telelet, disana saya bertemu dengan bunda Widya Setiyaningsih, salah satu anggota pegiat literasi. Waktu itu saya hanya memperhatikan saja, beliau begitu lincah, energik dan sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan kami semua. Dalam bahasa gaya belajar, beliau termasuk kinestetik yaitu metode gaya belajar yang selalu bergerak dan bereksperimen πŸ˜‚. Senang sekali waktu itu karena bisa bertemu dengan sosok-sosok yang luar biasa. 
Suatu ketika saat melihat-lihat status WA teman-teman, tidak sengaja saya melihat status WA bunda Widya yang intinya mengenai Kelas Belajar Menulis PGRI yang diasuh oleh Om Jay. Sudah lama saya penasaran dengan Kelas Belajar Menulis PGRI dan ingin mengikuti kegiatan tersebut. Segera saja saya japri bunda Widya untuk menanyakan bagaimana caranya supaya saya bisa mengikuti kelas belajar menulis tersebut. Akhirnya oleh bunda Widya saya diberi link untuk masuk grup kelas belajar menulis. Waktu itu saya masuk grup kelas belajar menulis gelombang 24. Tetapi karena materinya sudah banyak dan saya tertinggal,  akhirnya saya masuk grup BM hanya menyimak saja. Tetapi saya senang sekali, akhirnya perjuangan saya untuk bisa masuk kelas BM bisa terwujud karena semangat dan motivasi yang sangat kuat terutama dari diri saya sendiri. Hal yang bisa diambil pelajaran dari apa yang saya sampaikan tadi bahwa seseorang maju atau tidak tergantung dari KEMAUAN orang itu sendiri. Sebanyak apapun orang lain memberikan motivasi, selama diri kita tidak mau maka semuanya akan sia-sia. 
Selain itu usaha tidak akan mengkhianati hasil, seseorang yang mau berusaha insyaallah Allah pasti akan mengijabah apapun yang diikhtiarkan. Jadi jangan patah semangat, terus berusaha, selanjutnya pasrahkan hasilnya pada pemegang kehidupan Allah SWT. 

Salam Literasi !

Sabtu, 03 September 2022

Ujian

Tanggal 29 Agustus yang lalu, saya dan seorang teman saya ditugaskan Kepala Sekolah untuk mengawas Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di SMAN 5 Malang. Kegiatan ANBK dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh satuan pendidikan dan dilaksanakan selama dua hari. Untuk pengawas di SMA 5 diambil dari SMA 2 Malang. Sedangkan pengawas di SMA 2 Malang tempat saya mengabdi, diambil dari SMA 5 Malang. Asesmen Nasional merupakan program evaluasi yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memotret input dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan. 

Hari pertama, saya disambut seorang ibu guru yang mempersilahkan saya untuk menuju lab komputer. Di dalam lab sudah siap 45 orang siswa dan 5 orang siswa sebagai cadangan, 1 orang proktor dan 1 orang petugas lab yang akan membantu selama pelaksanaan ANBK berlangsung dan kami berdua sebagai pengawas.
Setelah berdoa semuanya segera mempersiapkan, apabila sesuai jadwal maka kegiatan akan dilaksanakan pukul 07.30- 09.40. sambil menunggu, saya mengedarkan absensi. Pukul 07.30 kegiatan belum dimulai karena menunggu dari pusat, pelaksanaan ANBK di SMA 5 menggunakan online murni sehingga harus menunggu dari pusat. Kondisi kelas masih kondusif, para siswa sudah siap dan masih dalam kondisi tenang. Sampai pkl 08.00 kegiatan belum juga dimulai, para siswa sudah mulai tidak sabar, diantara mereka ada yang tidur, ngobrol dengan teman-temannya, main game yang ada di komputer dan ada juga yang diam saja, karena hp mereka dikumpulkan. Pukul 08.25 Alhamdulillah server sudah bisa terhubung dengan pusat. Para siswa segera mengerjakan soal-soal ANBK tersebut dan karena hari pertama, sehingga banyak sekali kendala yang terjadi. Beberapa siswa sering mengangkat tangan dan menyampaikan bahwa komputer mereka harus di reset. 
Meskipun hari pertama terdapat banyak kendala tetapi para siswa tetap bersemangat. Kegiatan berakhir pukul 10.30 diakhiri dengan penandatanganan berita acara oleh pengawas ruangan. 

Tibalah hari ke dua, pukul 07.00 saya sudah sampai di SMA 5. Seperti hari pertama, dalam 1 ruangan sudah siap 1 proktor, 2 pengawas ,1 orang petugas lab dan 45 orang siswa. Situasi hari ke dua ini sudah sangat kondusif dan kegiatan dimulai sesuai dengan jadwal yang telah tercantum. Alhamdulillah para siswa juga mengerjakan dengan tenang. 
Hal yang bisa diambil pelajaran adalah keterlambatan pada saat mengikuti ujian baik terjadi karena server atau siswa datang terlambat hal itu akan mempengaruhi mood dan semangat pada saat mengerjakan ujian. Datang terlambat dan tergesa-gesa juga bisa menjadi sebab hasil ujian jadi kurang maksimal. Apabila kendala terjadi dari pusat, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengkondisikan para siswa dan kelas supaya kondusif. 
Apabila permasalahan terletak pada siswa dengan datang terlambat, diharapkan orang tua dan siswa sendiri yang harus bisa memanajemen waktu sehingga ujian bisa dilaksanakan dengan baik. Dalam mengerjakan ujian memang dibutuhkan ketenangan baik fisik maupun psikis oleh karena itu peran orang tua, guru dan lingkungan akan sangat mempengaruhi seorang siswa bisa mengerjakan ujian dengan baik atau tidak. 


Jurnalisme Kebangsaan Sesi Kolaborasi dengan Prof. Eko Indrajit

                 Nama saya Purbaniasita, biasa dipanggil Sita. Saya adalah seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMA Negeri 2 Malang. Ino...