Kecintaan saya pada kereta api dimulai ketika saya masuk SMP, pada saat itu sekolah saya berada dekat dengan stasiun kereta api Malang Kotalama yaitu SMPN 9 Malang. Jarak antara sekolah saya dengan stasiun hanya berkisar 1,5 km. Meskipun tidak pernah masuk stasiun, pada saat pulang sekolah saya sering sekali menunggu kereta tanki lewat.
PT. KAI di malang terutama di stasiun Malang Kotalama memang bekerjasama dengan Pertamina untuk mendistribusikan BBM melalui kereta api. BBM dari Surabaya diangkut dengan kereta tanki ke Malang, setelah sampai di stasiun Malang Kotalama, BBM yang berada di tanki tersebut dibawa ke depo Pertamina di jalan halmahera, selanjutnya dari depo Pertamina di distribusikan ke seluruh wilayah malang.
Setelah lulus SMP, ternyata Allah masih mendekatkan saya pada kereta api, saya masuk SMA yang tempatnya masih di sekitar stasiun Malang Kotalama, tepatnya di SMA 2 Malang. Setiap kali pulang sekolah, saya selalu bersiap-siap melihat kereta lewat. Bahagia sekali rasanya saat bel kereta mulai dibunyikan dan tidak berapa lama kemudian kereta api lewat. Begitu juga pada saat melihat petugas kereta api yang sedang bekerja, di mata saya mereka keren sekali. Ada masinis yang menjalankan lokomotif, ada petugas pengatur perjalanan kereta api, biasanya mereka berada di stasiun dan memakai topi merah. Ada juga petugas pengatur jalannya perlintasan (PJL), biasanya mereka ada yang di pos atau di jalan raya, tugas mereka adalah mengamankan perjalanan kereta api, salah satunya dengan menutup palang perlintasan pada saat kereta api lewat. Ada juga yang namanya juru langsir, tugas mereka adalah menyambung gerbong dengan lokomotif dan memastikan rangkaian gerbong telah terpasang dengan sempurna dan masih banyak lagi petugas kereta api yang lain.
Setelah lulus dari SMA saya melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang (UM), sehingga saya tidak pernah lagi melihat kereta api karena letak UM mengarah ke barat dan dekat dengan rumah saya, selain itu saya belum bisa naik motor sehingga kalau ke arah stasiun harus menggunakan angkutan kota.
Pada saat kuliah, saya masih menyempatkan diri sesekali ke stasiun terutama kalau ada saudara dari luar kota yang datang tetapi saya tetap tidak melewatkan tiap kali ada kereta yang lewat. Berteriak-teriak dan terkagum-kagum melihat kereta yang lewat merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya.
Setelah lulus kuliah, alhamdulillah saya diterima bekerja di SMA 2 lagi. Ada kebahagiaan tersendiri saat diterima bekerja di SMA 2, karena berarti saya mengabdikan diri pada almamater saya dan hal itu berarti bahwa saya kembali dekat dengan stasiun Malang Kotalama ππ€. Karena jarak rumah dan SMA 2 lumayan jauh, akhirnya saya mulai belajar mengendarai sepeda motor. Selain untuk memudahkan berangkat bekerja, saya bisa lebih leluasa kemana saja, bahkan saat keinginan melihat kereta api muncul.
Biasanya pada saat kegiatan di sekolah tidak begitu padat, saya sempatkan berangkat agak siang dan menunggu kereta tanki lewat. Biasanya, saya menunggu kereta lewat di bawah pohon dekat lampu merah. Setelah motor saya parkir, saya mencari tempat duduk dan siap melihat kereta tanki yang akan lewat. Saya perhatikan petugas pengaman perjalanan kereta api sudah mulai turun ke jalan dan menyetop pengguna jalan, tak berapa lama kereta tanki lewat, saya melihat dengan takjub, padahal sudah terbiasa melihat kereta api tetapi tetap saja saat kereta api lewat, selalu tidak bisa mengendalikan diri saya untuk berteriak dengan penuh ketakjuban ππ. Saya tidak menyadari bahwa ada salah satu petugas PJL yang memperhatikan saya dan tersenyum.
Saya beranjak mengambil motor, tiba-tiba
"Sini mbak, saya bantu" kata petugas PJL itu mengambil motor yang saya parkir.
"Oh ... iya terima kasih" balasku
Setelah motor siap ku kendarai, kembali saya mengucapkan terima kasih dan sejak saat itu petugas PJL yang bernama mas Aris itu selalu membantu saya setiap kali saya selesai melihat kereta api.
Kebiasaan membantu saya itu akhirnya menjadikan saya dan mas Aris semakin dekat dan tak jarang mas Aris sering mengajak saya masuk stasiun Malang Kotalama sekedar untuk melihat kereta api dari jarak dekat. Mas Aris cerita bahwa sebenarnya sudah lama dia memperhatikan saya yang selalu siap menunggu kereta datang. Biasanya Mas Aris selalu ikut naik dan mengawal kereta ke depo Pertamina, sejak dia melihat saya yang asyik menunggu kereta lewat, akhirnya dia minta ijin pada atasannya untuk beralih tugas sebagai PJL di jalan raya. Tentu saja dia tidak menyampaikan alibinya itu pada atasannyaππ€. Satu tahun setelahnya, kami menikah. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa hobi saya melihat kereta api ternyata membuat saya lebih dekat lagi dengan kereta api dan yang membuat saya takjub adalah ternyata Allah mengizinkan saya berjodoh dengan petugas kereta api ππ